Pertengahan tahun 1995 (bulannya aku lupa, apalagi tanggalnya), untuk pertama kali aku berjumpa dengan gua Pancur ini. Kedatanganku saat itu lantaran aku diajak oleh pembinaku untuk enyaksikan Raimuna Daerah (Raida) Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Tengah yang dihelat di sana. Ya, Raimuna Daerah, pertemuan (perkemahan) Pramuka Penegak se Jawa Tengah dilaksanakan di Gua Pancur . Sebuah gua yang terletak di kaki Pegunungan Kapur Utara (Pegunungan Kendheng) yang terletak di desa Jimbaran Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Sekitar 20 km ke arah selatan kota Pati.
Raimuna Daerah itu pulalah yang menandakan dibukanya objek wisata Gua pancur sebagai salah satu tempat tujuan wisata andalan di Kabupaten Pati. Peresmian sendiri dilakukan Gubernur Jawa Tengah.
Potensi Gua Pancur
Gua Pancur merupakan sebuah gua di kawasan katuan kapur (karst) yang mempunyai lorong sepanjang lebih kurang 7.356 meter (7 km). Dan sebagaimana lazimnya gua-gua yang terbentuk secara alami di balik perut Pegunungan Kapur Kapur Utara, gua ini dipenuhi oleh bebatuan stalaktit dan stalakmit, tentu menjadi daya tarik tersendiri.
Di dalam gua terdapat aliran sungai dengan air yang mengalir keluar dengan kedalaman sebatas pinggul orang dewasa, merupakan mata air yang berasal dari ujung gua paling dalam, dan tak pernah kering, meskipun musim kemarau panjang. Debit air yang keluar dai mulut gua lebih kurang 40 liter/detik
Beberapa daya tarik lainnya, aliran sungai dalam gua tersebut juga terdapat beberapa jenis ikan besar maupun kecil,yang tak pernah bisa dipancing.
Di dalam gua ini terdapat batuan kapur yang bentuknya patung mirip seekor kuda yang oleh warga setempat diberi nama sebagai watu jaran (batu kuda).
Di luar gua dibangun sebuah danau buatan yang sekaligus dapat digunakan sebagai kolam pemancingan. Danau buatan ini menampung air yang keluar dari dalam gua untuk selanjutnya dialirkan menuju sawah dan perkampungan warga setempat. Di atas danau terdapat sebuah rumah makan.
Kondisi terkini

Gua Pancur saat ini (foto: arrusyda.wordpress.com)
Beberapa tahun lalu objek wisata ini pernah dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Pati bekerja sama dengan pihak PDAM Kabupaten Pati. Pada tahun 2004, Pemkab Pati juga menjalin kerja sama dengan H Amir, seorang petani tambak bandeng air tamar, warga Desa Talun, Kayen.
Sebulan yang lalu ketika saya jeng-jeng (jalan-jalan) ke sana semuanya telah berubah 180 derajat. Sarana dan prasarana yang telah ada semakin tidak terawat. Lingkungan batu karst di sekitar guapun ikut rusak parah akibat penambangan phospat liar yang terjadi sekitar pertengahan 2008. Di muka mulut gua yang seharusnya sudah tumbuh sekumpulan pohon yang tahun 1995 dulu ditanam oleh Gubernur Jawa Tengah, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Provinsi Jawa Tengah dan Bupati Pati saat itupun tidak berbekas sama sekali. Apalagi pohon yang ditanam oleh para (sekedar) Pramuka peserta Raimuna Daerah. Dan anehnya, tidak ada satu pihakpun yang merasa ‘dirugikan’.
Foto-foto ini saya dapatkan dari arrusyda.wordpress.com dan www.jawatengah.go.id; pemuatan gambar hanya sebagai ilustrasi, jika foto-foto tersebut berhak cipta, mohan diikhlaskan.













Mantanku, semen dan air di Sukolilo « Alamendah's Blog berkata,
28 Mei 2009 @ 11:35 pm
[...] sana merupakan habitat kera. Yang katanya banyak tempat-tempat indah semisal Gua Wareh, Gua Lawa, Gua Pancur, Tebing-tebing buat panjat tebing. Sisi ekonomis, pertanian, budaya pencemaran lingkungan dan lain [...]
Wisata di Pati yang tersayang(kan) « Alamendah's Blog berkata,
28 Mei 2009 @ 11:40 pm
[...] Gua Pancur (kecamatan Kayen) [...]
Huda SC berkata,
29 Mei 2009 @ 11:28 pm
Gimana kalau sekalian kita ke sana untuk ikutan nambang phosfat?. Sekalian ancur2an, deh. Sebeeeeeeeelllllll aku… gemeeeeesss aku….!!!!
Huda SC berkata,
29 Mei 2009 @ 11:32 pm
(Eh… tambahan, Brow!) Tapi gimana dengan calon cucu gue entar, ya ?%$#@$# gak kebagian ikutan nambang eh…maksudte ikutan nikmatin keindahan guanya!
alamendah berkata,
30 Mei 2009 @ 3:03 pm
Gue tau… SC yang ini pasti “Sukanya Camping” sembari “Sees Cewek” tapi sayang tubuhnya “Sangat Ceking” n dompetnya “Super Cekak” He.. he.. just jokes, jgn dianggap “Serius Coy!”
anakayen berkata,
13 Juni 2009 @ 11:41 pm
Trims telah mengangkat FAKTA akan POTENSI yang TERLUPAKAN yang ada di daerah kami. Semoga yang berwenang turut membacanya.
alamendah berkata,
14 Juni 2009 @ 12:03 am
Sebenarnya, hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama, kok.
Nur kholis berkata,
21 Juni 2009 @ 2:13 pm
mulai detik dan hari ini kita benahi bersama….
maju yerus sejarah kota pati….
alamendah berkata,
21 Juni 2009 @ 2:28 pm
Semangat yang bagus. Mari!
Blog Saya Ini « Alamendah's Blog berkata,
26 Juni 2009 @ 12:00 am
[...] argopuro (7); gunung lasem (6); tentang survival (5); nikmat bercumbu (2); bumi perkemahan (8); gua pancur (1); argopuro lasem (1 dan 2); hutan bakau di pati (1 dan 2); organisasi pencinta alam di indonesia [...]
gendis berkata,
26 Juni 2009 @ 12:32 am
Dari dua foto yang dipajang saja saya bisa membayangkan kerusakan yang telah terjadi. Semoga masih bisa terselamatkan
alamendah berkata,
26 Juni 2009 @ 12:36 am
Harapanku juga sama dengan harapan Nona (?)
rizky berkata,
26 Juni 2009 @ 8:35 am
pemerintah terlihat kurang peka dlm masalah ini..
mga pemerintah nanti membuat program dan undang” bru tentang perlindungan alam dan isata” alam lainnya
alamendah berkata,
26 Juni 2009 @ 4:51 pm
Makanya kita yang harus proaktif mengingatkan. Tidak hanya kepada pemerintah tetapi juga kepada semua lapisan masyarakat.