11 November 2009
· Disimpan dalam Indonesia, flora · Tagged borassus flabellifer, buah siwalan, flora identitas sulawesi selatan, lontar, pohon siwalan, siwalan
Pohon Siwalan atau disebut juga Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi flora identitas provinsi Sulawesi Selatan. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah).
Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm.
Baca entri selengkapnya »
9 November 2009
· Disimpan dalam Indonesia, kerusakan alam, lingkungan hidup · Tagged abrasi pantai, abrasi pantai di Indonesia, dampak abrasi, erosi pantai, mangrove, penyebab abrasi
Abrasi pantai di Indonesia, telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Sedikitnya 40 prosen dari 81 ribu km pantai di Indonesia, rusak akibat abrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan kondisi ini sangat memperihatinkan bagi saya, tentunya juga bagi sahabat-sahabat semua.
Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh gerusan air laut baik yang disebabkan oleh meningkatnya permukaan air laut ataupun oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.
Baca entri selengkapnya »
7 November 2009
· Disimpan dalam satwa · Tagged hewan langka di indonesia, jenis tapir, satwa langka, tapir, tapir asia, tapir di sumatera, tapirus indicus
Tapir Asia (Tapirus indicus) atau di Indonesia biasa disebut Tapir, merupakan Satu dari empat spesies tapir yang ada di dunia. Dibandingkan dengan spesies Tapir lainnya Tapir Asia memiliki ukuran tubuh yang paling besar. Satwa yang oleh IUCN digolongkan berstatus “endangered” dan merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 ini dapat ditemukan di Indonesia (Sumatera), Malaysia, Myanmar dan Thailand.
Binatang yang mempunyai nama ilmiah Tapirus indicus ini oleh masyarakat Sumatera sering disebut sebagai “tenuk or seladang”, “gindol”, “babi alu”, “kuda ayer”, “kuda rimbu”, “kuda arau”, “marba”, “cipan”, dan “sipan”. Sedang dalam bahasa inggris disebut sebagai Asian Tapir, Indian Tapir, Malayan Tapir, Malay Tapir.
Baca entri selengkapnya »
5 November 2009
· Disimpan dalam lingkungan hidup, renungan · Tagged gerakan penanaman pohon, gerakan satu orang satu pohon, hari penanaman pohon nasional, one man one tree
Gerakan One Man One Tree (Gerakan Penanaman Pohon Satu Orang Satu Pohon) telah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan Hari Penanaman Pohon Nasional, 28 November 2008. Diperkuat dengan Keppres RI Nomor 24 Tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Nasional. Juga imbauan Presiden yang tertuang dalam Surat Menteri Kehutanan RI Nomor S.86/Menhut-V/2009.
Baca entri selengkapnya »
3 November 2009
· Disimpan dalam satwa · Tagged buaya, cicak, cicak melawan buaya, Cosymbotus platyurus, Gehyra mutilata, gekkonidae, Hemidactylus frenatus, jenis-jenis cicak
Menyaksikan cicak bertarung melawan buaya di dunia satwa rasanya tidak akan pernah mungkin. Cicak (Gekkonidae sp.) dan buaya (Crocodylidae sp.), walaupun sama-sama reptil (binatang melata) namun secara taksonomi telah berbeda mulai dari tingkat ordo.
Di lihat dari habitat dan makanannya cecak biasa memakan serangga (terutama nyamuk) dan biasanya hidup di dinding, atap rumah atau jika di alam cecak biasanya hidup pada tempat-tempat teduh. Sedangkan buaya umumnya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, terkadang juga memangsa moluska dan krustasea. Dari perbadaan ini sangat tidak mungkin jika (di dunia satwa) cicak bertarung melawan buaya.
Baca entri selengkapnya »
1 November 2009
· Disimpan dalam Sahabat · Tagged badak jawa, oktober, raja komentator, Rhinoceros sondaicus, Sahabat, satwa langka, terima kasih, top komeng, top komentator
Bagai Badak, Alamendah terperangkap final battle of komeng. Padahal Alamendah terbiasa di hutan bercengkerama dengan aneka satwa langka, satwa Indonesia yang dilindungi dari kepunahan, aneka tumbuhan unik dan langka semacam bunga Rafflesia, 30 Oktober kemarin terperangkap dalam duel perebutan Top Komentator (Final Battle of Komeng) di Blognya Sang Raja Komentator Blog, Kang Boed.
Pertarungan untuk menjadi raja komeng berlangsung dengan sangat ketat. Para kontestan silih berganti saling menyalip. Hingga 7 jam menjelang batas akhir, Saya sempat terlempar ke posisi keempat. Saya memang tidak berani mengandalkan bantuan para satwa langka, termasuk Badak Jawa sekalipun, karena mereka sendiri sedang berjuang keras keluar dari bahaya kepunahan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat akibat kebakaran hutan dan pembalakan hutan.
Baca entri selengkapnya »
30 Oktober 2009
· Disimpan dalam flora · Tagged bunga jeumpa, cempaka kuning, flora identitas provinsi aceh, flora identitas provinsi di indonesia, gambar bunga jeumpa, maskot aceh, michelia champaca, nama lokal, nanggroe aceh darussalam
Bunga Jeumpa (Michelia champaka) atau disebut juga Cempaka Kuning, merupakan satu dari sekitar 50 spesies anggota genus Michelia. Bunga Jeumpa merupakan pohon atau perdu yang mempunyai tinggi antara 3 – 6 meter. Memiliki bunga yang berbau wangi dan berwarna oranye, kuning atau putih krem, berukuran agak besar, helaian bunganya tersusun dalam untaian yang banyak. Buahnya coklat terdiri atas 2-6 biji. Minyak bunga ini digunakan sebagai bahan parfum. Bunga Jeumpa merupakan flora identitas (maskot) provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Baca entri selengkapnya »
28 Oktober 2009
· Disimpan dalam Indonesia, satwa · Tagged binatang langka, daging trenggiling, jenis trenggiling, manis javanica, penyelundupan daging trenggiling, satwa dilindungi, sunda pangolinciri-ciri trenggiling, trenggiling
Trenggiling (Manis javanica) atau dalam bahasa inggris disebut Sunda Pangolin adalah salah satu spesies dari genus Manis (Pangolin) yang hidup di Indonesia (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan) dan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Hewan yang mempunyai ciri khas bersisik ini merupakan hewan pemakan serangga. Perburuan Trenggiling (Manis javanica) sangat marak di Indonesia mengingat harga jual daging trenggiling yang sangat tinggi, mencapai 1 juta per kg.
Trenggiling hidup di hutan tropis dataran rendah. Makanan utamanya adalah serangga (semut dan rayap). Binatang ini mempunyai bentuk tubuh khas yang memanjang dan tertutupi sisik. Panjang dari kepala hingga pangkal ekor mencapai 58 cm. Panjang ekor mencapai 45 cm. Berat tubuh trenggiling sekitar 2 kg.
Baca entri selengkapnya »